My name

Selasa, 01 Februari 2011

Kesehatan itu sangat berharga

Hai diaryku...lama banget aku ga nulis rasanya tangan dan otak ini beku dalam merangkai kata. Bener juga kata suamiku yang panjang lebar kali tinggi menasehatiku gini: "kalau kamu berhenti menulis maka saat kamu mulai menulis serasa akan kembali dari nol lagi, sulit......." (hehe padahal dia juga ga pernah nulis). oya diaryku sebenarnya ga ada kejadian yang menarik akhir-akhir ini yang membuat ide menulisku muncul hanya beberapa hari ini aku harus bed rest karena sakit. Batuk. Sebenarnya btuk bukanlah penyakit tetapi merupakan mekanisme pertahanan tubuh di saluran pernapasan dan merupakan gejala suatu penyakit atau reaksi tubuh terhadap iritasi di tenggorokan karena adanya lendir, makanan, debu, asap dan sebagainya.Semua orang aku rasa pernah mengalaminya.

Sekedar cerita gejala batukku ini sudah muncul sejak 2 minggu yang lalu. Pada saat itu aku memang beraktivitas cukup padat baik kegiatan school maupun yang lain. Selain itu juga didukung cuaca yang sangat panas sehingga mengakibatkan aku sangat menggemari soft drink dingin. Bawaannya ngelirik isi kulkas terus hehe...Nah aku juga agak mencurigai kandungan gula yang aku konsumsi pada waktu itu. Kondisi gula yang warnanya kekuningan dan setiap aku minum kopi dengan kadar gula yang cukup banyak pasti ditenggorokan gatal. Aku sih pada waktu itu masih cuek saja. Karena denger-denger gula yang baik itu kan yang tidak putih 100% karena yang terlalu putih itu kadang mengandung pemutih. Jadi fikirku kondisi gula yang demikian adalah bagus.

Nah 1 minggu yang lalu saat aku pulang ke pule aku makan masakan ibukku yang memang biasa super pedas dengan nikmatnya. Aku tetap mengabaikan meski frekuensi batukku semain sering. Saat di ingatkan ibuk untuk tidak makan gorengan aku pun tetep ngeyel aku comot aja tempe, tahu sampai bawang goreng pun aku makan (bawang merah goreng adalah makanan favoritku sejak kecil). Nah saat aku bangun pada keesokan harinya tenggorokanku terasa panas terbakar...mau bicara sakit dan batukku semakin sering dan itu sangat mengganggu. Waaaaah......padahal pada waktu itu planning ku adalah mengerjakan pekerjaan dari skul yang sudah tertata rapi dan tersusun dalam jadwal agenda harianku. Akhirnya selama tiga hari aku harus bed rest minum obat...dan terus merasakan sakitnya tenggorokan karena batuk. Dampak batuk itu cukup hebat bagi tubuhku. Seluruh badan rasanya sakit semua mulai punggung, dada sampai ke perut. Hal ini diakibatkan dari guncangan yang terjadi setiap batuk. Nah agak takut juga saat batuk aku mengeluarkan sedikit bercak darah..tapi mungkin itu karena luka di saluran pernapasan akibat batuk tersebut...ya semoga saja. Mau ke dokter lagi....ehm....ga wis (bandel.com) . Yang membuat aku tambah tersiksa adalah aku harus menghindari makanan yang merangsang tenggorokan seperti: pedas, manistrus berminyak bahkan kopi sebagai minuman favoritku pun harus aku hentikan dulu. Kurangnya konsumsi gula (yang aku curigai sebagai pemicu awal batukku) membuat tubuhku lemas. Sehabis mengajar aku hanya berbaring ditempat tidur. I hate this!

Nah setelah 1 minggu minum obat, trus minum air jeruk hangat, sampai jeruk yang dicampur kecap (ngikuti nasehat temen-temen) ternyata batukku sudah mulai berkurang, tetapi badan masih terasa sakit semua dan aktivitas pun belum bisa berjalan dengan maksimal.

Nah diary yang perlu aku refleksikan diri disini adalah:
1. Saat beraktivitas aku harus bisa membagi waktu untuk istirahat yang cukup
2. Jangan terlalu banyak mengkonsumsi soft drink dingin lebih baik air putih saja (bisa ga ya ^_^)
3. Konsumsi gula harus seimbang berarti saat membuat minuman jangan terlalu manis
4. Saat sudah ada gejala sakit harus segera di tanggulangi dengan obat
5. Kesehatan itu sangat berharga, saat sakit semua pekerjaan terbengkalai, tidak bersemangat, mudah capek dan badan terasa sangat tidak menyenangkan.
6. Mohon ampun pada Allah karena terlalu sombong dengan menyepelekan rasa sakit....Astaqfirullah....

Kamis, 13 Januari 2011

Pernahkah bercita-cita jadi guru?????

Met siang diary....wah lama banget aku absen nulis di lembaranmu...Akhir-akhir ini sebenarnya banyak kejadian yang sangat ingin aku ceritakan. Akan tetapi karena kesibukan yang luar biasa membuat aku menundanya, akibatnya hilanglah feel untuk nulis. Pada cerita kali ini aku hanya ingin bertanya pada siapa yang membaca tulisanku pernahkah kalian bercita-cita menjadi guru?????

Dari hasil survey temen-temen sebagian besar bilang kalau dulu tidak pernah terbersit sekalipun menjadi guru. Menjadi guru itu terpaksa dll Mengapa demikian???? ehm banyak hal yang yang melatar belakangi alasan itu tentunya dan itu privasi mereka.

Nah kalau aku berani bertanya tentu aku berani menjawab apakah aku dulu pernah memiliki cita-cita menjadi guru????
Sebelum aku menjawabnya aku akan bercerita pengalamanku saat kelas V SD. Saat itu aku mengikuti lomba siswa teladan tingkat kabupaten. Pada saat ujian wawancara penguji bertanya tentang cita-cita tiap peserta. aku masih ingat hampir seluruh peserta menjawab "ingin jadi orang berguna bagi bangsa dan negara" dan saat pertanyaan itu ditujukan kepadaku aku menjawab dengan spontan "Jadi dosen pak". Penguji tersebut tersenyum kepadaku kelihatannya dia tertarik untuk bertanya lebih lanjut. Pada saat itu aku berfikir "aduh keceplosan coba aku menjawab sama seperti teman yang lain pasti ga akan ada pertanyaan lain hehehe..."
Nah kemudian beliaunya bertanya lagi "apa alasanmu ingin jadi dosen?" aduh bingung aku napa ya? yang jelas pada waktu itu aku melihat bapak dan ibu yang berprofesi guru tiap hari berangkat berpakaian abu-abu aku melihat mereka sangat serasi dan itu sangat menyenangkan. Tapi masak aku menjawab demikian??? nah karena saking nervousnya malah terlontar jawaban polos "karena dosen itu gurunya guru pak" walah....semua peserta yang diruangan tersebut tertawa. Saat itu aku terus memikirkan jawaban bodohku itu kenapa ya aku ga bisa memberikan alasan yang lebih baik???

Terlepas dari itu semua diary memang menjadi guru adalah cita-citaku jauh sebelum aku mengikuti lomba tersebut. Ya meskipun dulu agak elit sedikit yaitu jadi "dosen" tapi dosen dan guru kan hampir sama hehehe....Aku lupa pernah membicarakan cita-citaku itu pada siapa saja yang jelas 1 tahun lalu saat aku bertemu dengan teman SD ku dia bilang gini "Selamat ya mbak...meskipun sampeyan ora dadi dosen tapi dadi guru....kan wis podo ae?" (Selamat mbak meskipun kamu tidak jadi dosen tetapi sudah jadi guru kan sama saja). Wik....aku sempat bengong waduh...aku dulu cerita apa aja tentang cita-cita dengan temen-temen kecilku???dan lucunya kok dia masih ingat???sedang aku sendiri lupa pernah cerita.

Menjadi guru itu bukan hal mudah diary. Banyak orang bilang bekerja sebagai guru itu enak libur panjang dan hanya bekerja setengah hari. Benarkah??? tidak juga diary...pekerjaan menjadi guru itu banyak resikonya. Guru selain sebagai fasilitator juga harus sebagai pendidik yang mencetak generasi bangsa. Secara akademis berat diary...beban yang harus di pikul dan dipertanggungjawabkan oleh guru. Guru memberikan nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) berarti sudah bertanggung jawab bahwa siswa yang bersangkutan telah menguasai kompetensi tersebut. Nah kesulitan guru adalah adanya suatu "sistem lain" yang terkadang harus mengutamakan  rasa kasihan yang malah menjerumuskan si siswa tersebut secara sadar maupun tidak. Sangat berat pertanggung jawabannya diary...jika kita memaksakan idealisme maka orang akan mencemooh dan bilang kita keterlaluan. Tapi coba diary dampak panjang apa yang akan terjadi pada bangsa kita??

Selain itu dari segi pendidikan moral juga demikian sekarang kecenderungan kita berkiblat pada budaya barat yang diadopsi baik secara sadar maupun tidak disemua segi kehidupan kita. Tentu saja kebudayaan itu banyak berakibat kurang baik dalam hal moral bangsa. Bukan menyalahkan kebudayaan diary tetapi lebih pada pendidikan moralnya yang terkadang terlupakan. Guru tetap bertanggung jawab terhadap moral bangsa yang semakin parah akibat gempuran budaya barat. Oleh sebab itu aku sangat setuju sekali dengan adanya sisipan pendidikan moral dan karakter bangsa dalam setiap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran setiap harinya. Dan itu diharapkan dapat sedikit menanggulangi dampak buruk dari kebudayaan barat yang berbeda dengan kebudayaan kita. Nah mengingat betapa beratnya pertanggungjawaban guru terhadap para siswanya salah ga ya guru mendapat dispensasi untuk liburan disaat libur sekolah???? hehehe...jangan ngiri dunk.....

Nah setelah guru mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah terutama yang menonjol adalah adanya penghargaan berupa sertifikasi maka berbondong-bondong semua ingin menjadi guru. Waaahhhh.....ternyata sekarang pekerjaan guru diminati hehehe...

Yahc terlepas dari itu semua memang pemberian sertifikasi itu tidak berlebihan diary  mengingat output  yang dihasilkan sebagai pilar pembangunan bangsa kita. Hanya pesanku...ayolah teman-teman kita seriusi pekerjaan kita agar siswa kita benar-benar bisa memperbaiki negara kita. Jangan pernah menuntut terlalu banyak jika memang kita tidak menyumbangkan hal yang sepadan buat bangsa kita....Just it hehehe

Selasa, 14 Desember 2010

My Journey

Met sore diary...lama juga ga curhat sama kamu. Hari ini aku mo cerita tentang perjalananku yang baru aku lakukan 20 menit yang lalu. Sebenarnya perjalanan ini adalah perjalanan yang biasa aku lakukan tiap mingunya yaitu perjalanan dari Pule ke Trenggalek. Bagi yang belum tau Pule akan sedikit aku ceritakan. Pule adalah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek. Ehm kalo semisal kalian pergi ke Trenggalek trus bertanya Pule itu mana? tentu orang akan menjawab dengan tersenyum  "Wah Pule itu juuuuuaaaauuuuhhhh (jauh maksudnya lebay.com) ndeso poll (Desa sekali)". Sebenarnya tidak sejauh itu, dari Kota Trenggalek sekitar 27 Km kalau ditempuh lewat jalur umum dan sekitar 60 menit untuk mencapainya. Tetapi ada jalan tembusan yang bisa menghemat waktu 15 menit jika menempuh jalan tersebut. Jadi Pule Trenggalek bisa ditempuh sekitar 45 menit. Dan untuk sebutan Ndeso ya relatif se. Aku bilang relatif karena internet juga sudah menembus sana, remajanya juga aku lihat juga ga kalah dengan remaja Trenggalek dari segi penampilan. Trus kalo soal kemampuan akademik banyak juga anak dari Pule yang dapat sekolah di sekolah favorit di Trenggalek bahkan untuk Lomba Matematika tingkat SD beberapa tahun lalu juga dimenangkan anak Pule sampai dibawa ke tingkat Propinsi.... so??? menurut kalian gimana ya relatif. Dari segi kondisi fisik memang sih kecamtan Pule merupakan pegunungan. Cukup tinggi dan udaranya bisa sangat dingin dan itulah yang sangat menyenangkan bagiku, sangat cocok jika digunakan untuk melepaskan kepenatan dari aktivitasku di Trenggalek.Ehm serasa punya vila kayak di Batu....hehe

Okey kembali ke topik awal. Semenjak hari Senin aku sudah berada di Pule kebetulan aku tidak mendapat tugas menjaga ujian untuk hari Senin dan Selasa jadi aku buat untuk istirahat di Pule. Sangat menyenangkan rasanya bisa pulang tetapi  karena ada suatu hal aku harus kembali hari ini. Bener-bener malas rasanya mau berangkat apalagi salah satu teman tadi menelfon dan bilang akan menggantikan jaga besuk pagi sedang saya mendapat jaga siangnya. Andaikan tidak karena kepentingan yang amat sangat penting aku akan merasa sangat beruntung sekali. Tetapi sekali lagi dengan berat aku harus mengemasi barang-barangku. Ibu memandang iba saat dengan gontai aku melangkah ke kamar mandi. Apalagi aku dalam kondisi kurang sehat sejak kemarin. Kemarin perutku yang sakit bukan main hari ini ganti kepalaku yang rasanya bawa beban 1 ton. Bapak yang saat itu pulang untuk makan siang dari kantor pun bicara "Opo sampeyan tak terne nduk?" aku menjawab "Mboten pak mangke alon-alon mawon". "Yo wis yen ngono ati-ati mengko yen wis teko nggalek ojo lali sms, bapak nyang kantor maneh?"kata bapak aku pun mencium tangannya sambilmenjawab "Nggih pak". Bapak pun berangkat ke kantor lagi. Setelah beberapa saat berkemas akhirnya aku pun pamit ke ibu sambil mencium tangan dan dibalas dengan ciuman di pipi seperti yang biasa dilakukan ibu ketika aku mau berangkat kemana pun.

Kondisi jalanan ya tetap seperti biasa tetapi yang menarik kali ini adalah aku sangat menikmatinya. Dimulai dari keberadaan sebuah rumah yang dalam kondisi masih tahap pembangunan yang waw lumayan megah..aku sempatkan untuk mengamatinya. Tangga di bangun dengan desain berputar, tiang penyangga cukup tinggi dan kombinasi cat nya yang memakai warna putih dan gold membuat rumah itu cukup mengagumkan. Sayangnya rumah itu berada pada lahan yang terletak di tikungan yang cukup tajam jadi orang akan sulit mengagumi rumah itu lebih lama tanpa kehilangan konsentrasinya hehe..

Setelah mengamati rumah mewah yang masih dalam pengerjaan 80% itu pandanganku beralih pada lahan yang biasa sebagai tempat pembibitan cengkeh. Aku melihat bibit cengkeh sudah banyak berkurang tinggal beberapa saja yang masih berada disana. Dengar-dengar puluhan ribu bibit cengkeh itu disediakan bagi penduduk setempat oleh sebuah pabrik rokok yang apa namanya aku sendiri kurang tau. Ingatanku melayang ke beberapa 20 tahun lalu. Saat itu harga cengkeh sangat luar biasa. Kecamatan Pule cukup berjaya pada saat itu. harga bisa mencapai 70rb per kg. Uang 70rb pada tahun itu sangat berharga bahkan gaji PNS masih sekitar 200rb. Jadi bisa dibayangkan betapa jaya nya petani cengkeh saat itu. Aku juga masih ingat dulu iseng-iseng ngumpulin bunga cengkeh yang ada dibawah pohon saat bapak memanen, aku keringkan dan aku jual setelah 3 ons dan dapat uang yang lumayan saat itu untuk beli es dawet dengan teman-teman (Secara aku dulu ngga boleh minum es oleh bapak/ibuk makanya bangga bisa beli es tanpa minta uang kepada mereka meski akhirnya mereka terpaksa harus beli obat karena aku sakit setelah meminumnya hehe). Nah setelah harga cengkeh turun drastis sampe mencapai 1000 rupiah per kg petani sangat marah dan menebang seluruh pohon cengkeh yang dimiliki. Dan dampaknya sekarang saat harga cengkeh mulai naik lagi jarang petani yang memiliki cukup banyak pohon cengkeh yang dapat produktif mengahasilkan bunga cengkeh sesuai dengan permintaan pasar. Hal tersebut membuat harga cengkeh semakin naik. Ehm sangat disayangkan......

Okey setelah melamun cukup panjang (jangan ditiru coz mengendarai motor sambil melamun sangat membahayakan begitu kata pak polisi hehehe) akhirnya aku sampai didaerah Ngepeh. Ngepeh adalah sebuah desa di Kecamatan Tugu. Di sana aku jalankan motorku cukup pelan karena selain jalannya yang berlubang dan menghindari kepalaku yang berdenyut-denyut lebih parah lagi view alamnya sangat mengagumkan. andai aku ada waktu pasti aku akan melukiskannya dalam sebuah kanvas. Ehm bukan berarti aku seorang pelukis. Hanya aku pernah 2 kali melukis diatas kanvas. Yang pertama aku melukis seorang wanita bali yang membawa sekeranjang bunga ditangannya (maksudku begitu) cuma karena terkesan seperti kartun 2 dimensi maka guru lukisku memperbaikinya dengan menambahkan shading di berbagai tempat dan hasilnya waw luar biasa (ya mesti ae wong aku melukis 40% nya sedang 60% beliau hehehe). Trus lukisan kedua adalah lukisan pemandangan yang berasal dari imajinasiku hasilnya juga tidak mengecewakan meski lukisan itu cenderung 2 dimensi daripada 3 dimensi (cukup sulit ternyata memberikan shading yang tepat). Nah kembali ke view yang aku lihat...ehm tak henti-hentinya aku mengucapkan Subbahanallah atas segala keindahan di depan mataku. Gunung-gunung berjajar mengelilingi kota Trenggalek. Bahkan dari tempat itu aku bisa melihat 2 air terjun yang cukup indah. Entahlah itu di daerah mana yang jelas andai bisa kesana pasti menyenangkan. Pernah aku dengan suamiku berkeinginan berhenti sebentar di tempat itu dan melihatnya memakai teropong sayang belum kesampaian karena setiap perjalanan melalui tempat itu pasti selalu dengan kondisi tergesa-gesa.

Setelah melewati jalan yang menukik cukup tajam sekitar 10 menit sampailah aku di desa Tumpuk. Disitu aku melihat ada sebuah Truck yang melintang menghalangi lebih dari separu jalan menurunkan muatannya. Sambil bersungut-sungut aku berhenti karena dari arah berlawanan ada beberapa kendaraan yang melintas. Saat itu aku merasakan kepalaku sakitnya bukan main sampai-sampai aku mengerang dan menepikan motorku beberapa lama. Setelah mereda aku stater lagi motorku dan melewati jalanan Tugu dengan santai. Tiba-tiba dari arah belakang ada motor dengan warna merah dengan kecepatan tinggi menyalipku sekali lagi aku menggerutu pikirku saat itu napa se ga lebih pelan sedikit?

15 menit kemudian sampailah aku di rumah mertuaku. Disitulah aku untuk sementara tinggal karena rumah kami masih 30% dalam pengerjaan. Yahc semoga saja 3 bulan kemudian aku dan suami bisa segera menempatinya, karena dirumah baru itu kami ingin mencoba hidup lebih mandiri. Selain itu rencananya aku ingin mewadahi minat murid-muridku di bidang tari dengan membuka sanggar kecil-kecilan. Dengan harapan dari situ aku bisa mengekspresikan diri dan berkarya di bidang seni amin.....Okey melamun lagi jadinya hehe Setelah mengucapkan salam aku menuju ke kamar dan meletakkan tas. Tak lupa aku buka hp dan mengirim sms ke bapak dan ibu "Pak buk Alkhamdulillah kulo sampun dugi Trenggalek" dan tak beberapa lama bapak membalas "Yo nduk Alkhamdulillah ati-ati". Ehm....ku buka laptop kemudian aku menuliskan kisahku ini dalam diary ini....

Rabu, 01 Desember 2010

Memang ada yang salah dengan Guru SD?

Dear diary.....
Hari ini sekolah mengadakan upacara guna memperingati hari HIV sedunia. Oleh sebab itu kami para guru di anjurkan untuk memakai pakaian abu-abu. Nah saat aku sedang ngobrol asik dengan teman tiba-tiba ada teman lain yang datang langsung menyeletuk "Wah....pake baju abu-abu koyok guru SD ae". wik...mataku langsung membelalak ke teman yang sejak tadi aku ajak mengobrol. Teman ku sentak menjawab dengan pelan "Wah aku kesindir ibuk ku juga guru SD nih...". Aku menggelengkan kepala...memang ada apa dengan pakaian abu-abu? bukannya itu pakaian identitas semua guru? bahkan aku sangat merindukan memakai pakaian itu karena sekarang kewajiban memakai batik 3 hari kerja membuat kami harus memakai pakaian abu-abu 1 hari. Bahkan abu-abu pun kadang diganti dengan baju identitas sekolah. Trus??????so what?????aku ga habis fikir masih ada ya yang berfikiran bahwa guru SD tidak bisa disejajarkan dengan guru SMP atau SMA. Emang mengapa kalau mengajar SD? apa itu berarti mereka tidak lebih intelek dari kita? apa itu berarti mereka berada dalam strata yang paling bawah dalam profesi guru?ckckck.......jika masih berfikiran demikian aku sungguh sangat prihatin.

Masih ingat dulu ibukku pernah mengeluh atas kelakuan oknum guru SMP di desaku. Saat upacara korpi (yang dapat dikatakan upacaranya semua PNS tanpa kecuali) deretan ibukku yang semua anggotanya guru SD berbaris didekat barisan guru SMP. Pada waktu itu salah satu guru SMP ada yang terlambat, kebetulan beliau tidak mendapat barisan sedang barisan ibukku masih sisa 1. Ibukku bilang "Monggo bu silahkan di isi" sebenarnya beliau sudah mau mengisi tetapi salah satu temannya berbisik dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang "Itu tempatnya guru SD, yang SMP sebelah sini, nanti panjenengan dikira guru SD hahaha". tertawanya sangat sinis dan menyakitkan guru SD yang mendengarnya. Padahal itu upacara korpri seharusnya ga ada penggolongan-penggolongan demikian. Bukankah semua anggota korpri?.Bahkan adalakanya aku mendengar guru SMP atau SMA bilang "ooo ancene guru SD pantesan..." Kalimat itu sering sekali aku dengar diary bahkan beberapa hari terakhir ini. Mengingat hal tersebut  ibu menasehatiku dengan berkata "Nduk saumpama sampeyan mengko dadi guru SMP utowo SMA ojo dumeh...tetep andap asor karo guru-guru liyane terutama guru SD, eling yen ora ana guru SD ora bakal ana bocah SMP utawa SMA". Ya benar apa kata ibukku.......tanpa guru SD mana bisakita bisa seperti sekarang ini?aku selalu berusaha untuk menghargai beliau para guru SD layaknya orangtuaku sendiri.

Nah kembali ke pokok persoalan diary. Penempatan profesi seseorang dalam strata tertentu sangat menyedihkan. Betapa ajaran kolonial Belanda begitu erat terpatri dalam darah daging kita. Menempatkan guru SD distrata paling bawah dari guru-guru lainnya tak jauh beda dengan ajaran kolonial Belanda dimasa lalu.Berarti secara tidak langsung jiwa penjajah ada dalam diri kita yang masih berpandangan demikian. Bahkan di intern guru SD sendiri kadang juga terjadi penstrataan tersebut suatu misal: Guru yang mengajar kelas 4,5,6 dikatakan guru yang mengajar kelas tinggi. sedangkan kelas 1, 2 dan 3 mengajar kelas rendah. Adanya istilah tinggi dan rendah itu menurutku sangat mengganggu. Mengapa harus ada kelas tinggi dan ada kelas rendah. sehingga tidak sadar akan membuat penggolongan tersendiri.Guru yang mengajar kelas tinggi akan merasa lebih cerdas dari guru yang mengajar kelas rendah. Menurut ku istilah itu harus dihapus. Cukup dikatan guru SD begitu saja agar tidak adanya jurang yang memisahkannya.

Coba diary kita analisa dulu, awal terbentuknya siswa bisa membaca, siswa bisa menulis, siswa bisa berhitung dengan baik dan benar dari mana? awal terbentuknya berilaku siswa sopan santun saling menghormati dan menghargai teman darimana?Guru SD memiliki jasa dan andil yang sangat besar dalam membentuk intelektual dan karakter dari seorang siswa. Jadi sangat tidak layak dikatakan guru SD di tempatkan dalam strata profesi guru di paling bawah. Bagi siapapun yang masih menganggap guru SD berada di strata profesi paling bawah segeralah sadar bahwa tanpa mereka kita tidak akan memiliki siswa seperti sekarang ini...

Selasa, 23 November 2010

Penyakit hati

Dear diary….seperti biasa di hari selasa aku selalu mempunyai banyak waktu untuk sekedar mencoret-coret halamanmu dengan segala unek-unek dalam fikiranku.
Dari judul yang akan aku kupas hari ini tentulah kita sudah tidak asing lagi kan diary…?? Entah disadari ataupun tidak kita juga pernah menderita penyakit  tersebut. Lalu apa sih sebenarnya penyakit hati itu? Apakah penyakit yang menyerah organ hati seperti Hepatitis C dan B yang yang diakibatkan virus. Ehm kalo itu sih bukan bahasan kita kali ini. Tapi lebih menekankan pada penyakit hati yang terkadang secara fisik ga berpengaruh secara langsung tetapi sangat berimbas pada psikologis kita. Alasan aku menulis ini pun berdasarkan realita yang sering menyinggungku akhir-akhir ini. Aku menjadi salah satu korban akibat dari orang yang memiliki penyakit tersebut. Dan aku menulis ini lebih pada untuk mengingatkanku agar penyakit-penyakit itu tidak menghinggapiku.

Okey kita mulai diary........

Menurut guru agama SMA ku dulu Mr.Tamsir (hehe aku masih ingat sama beliau) penyakit hati ada: 6 yaitu:
1. Iri hati
2. Dengki
3. Hasut
4. Fitnah
5. Buruk sangka
6. Khianat

Nah coba kita liat dari keenamnya mana yang kita pernah merasakan??? Khekehe……(ssstttt rahasia). Tidak munafik diary tentu kita pernah mengalaminya merasakan walau kadang tidak terungkapkan. Seperti penyakit yang aku kupas hari ini : Iri hati!

Iri hati adalah penyakit yang membuat orang selalu sinis dengan keberhasilan orang lain. Orang itu tidak pernah merasakan kesenangan jika orang lain berhasil, dikagumi orang atau mendapatkan prestasi yang diinginkan. Secara tidak sadar orang yang memiliki penyakit ini akan selalu mendoakan orang yang menjadi target  tidak berhasil, gagal, hancur dan lebih buruknya tertimpa musibah…Naudzubilah..!!!  Tetapi secara disadari atau tidak orang yang memiliki penyakit ini akan selalu  memonitor “taget”. Sedang apa dia? Apa  yang dilakukan hari ini?dan terus mengikuti gossip perkembangan si “target” tersebut. 

Adapun secara visual aku amati cirri-ciri orang yang memiliki penyakit ini adalah : wajah selalu terlihat cemberut, sinis, senyum tidak ikhlas dan saat berbicara selalu ketus satu hal dia sangat sulit tertawa. Aduh kalo sudah berhadapan dengan orang yang seperti ini diapakan ya….?? Udah melawak di depannya tetap saja lelucon itu ditanggapi dengan sinis jadi pembicaraan terkesan garing dan dipaksakan. Kalo dah begitu lebih baik mundur saja lah ga usah diterusin berbicara.  

Penyakit iri hati ini akan memicu penyakit hati lain. Suatu misal dia akan berfikiran bagaimana bisa menghancurkan keberhasilan “target” dengan berbagai cara baik secara “gentle” atau bahkan seperti layaknya seorang pengecut nah itu namanya penyakit  Dengki. Saat orang tersebut sudah ingin menghancurkan target maka dia mengasut orang terdekat dari “target” agar kepercayaan orang-orang disekitar “target” berkurang akhirnya mulailah si target merasakan adanya fitnah atau ungkapan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dampak dari fitnah bisa besar bisa juga kecil bagi si “target”.  Jika berdampak kecil maka target akan bisa langsung berdiri kembali dan mengabaikannya akan tetapi kalau berdampak besar maka bisa jadi si target akan kehilangan kendali dan ikut terseret memiliki penyakit hati tersebut…sekali lagi Naudzubillah….!!!
Nah diary…aku sangat heran melihat orang lain yang tidak merasa bahagia atas keberhasilan dari seseorang. Mengapa sih  jika orang lain sukses? Toh kesuksesan itu tidak membuat orang tersebut terjatuh? Toh kesuksesan itu juga hasil dari kerja keras mereka. Pernah aku dengar istilah “Rumput tetangga itu lebih hijau dari rumput sendiri” (emangnya kambing makan rumput? Hehehe) maksudnya adalah kalo kita melihat dengan kacamata kita sendiri kita akan melihat hidup orang lain jauh lebih sempurna dari hidup kita. Padahal tidaklah demikian adanya. Kita bisa mengubah cara fikir kita menjadi biarlah rumput tetangga di sana hijau toh kita juga bisa membuat rumput kita lebih hijau dengan usaha kita. Nah kalo  bisa berfikir demikian itu berarti kita bisa mengolah rasa iri itu menjadi motivasi kita agar menjadikan hidup lebih baik. Akan tetapi janganlah kita selalu melihat orang yang berada diatas kita sebagai tolok ukur kehidupan kita karena ada istilah “Matahari itu bisa membuat kita buta jika kita memandanginya terus menerus. Bersyukur dengan apa yang telah kita miliki aku rasa itu lebih bijaksana.
Dulu diary ada seorang teman menasehatiku tentang hal ini. Aku masih ingat saat itu aku mengantarkan undangan kegiatan tahunan UKM (unit kegiatan  mahasiswa) diseluruh fakultas dikampusku. Saat itu perjalanan ke gedung MIPA, secara tidak sadar aku mengeluhkan udara yang sangat panas dan aku lupa tidak memakai payung untuk melindungi kulitku. Terlontarlah penyesalankuyang mungkin dinilai oleh orang lain adalah ketidak puasanku atas apa yang aku miliki secara fisik. Aku akui saat itu memang aku gadis manja yang sangat menjaga penampilan. Salon adalah tempat favoritku menghabiskan uang yang seharusnya aku gunakan untuk makan makan bergizi tiap harinya (aku rela hanya makan tahu tempe asal tidak kehilangan indahnya rambut dan cerahnya kulitku hahaha….secara memang aku lebih suka menjadi vegetarian kok) jadi berat badan 40 kg adalah berat badan maksimal yang aku miliki. Saat aku mengucapkan keluhanku temanku tersenyum lalu berkata “Fril coba lah kamu jangan terus menatap matahari” aku terbengong mencerna kalimat temanku jawaban bodoh aku ucapkan “Lha sapa yang mau menatap matahari??? “. Dia tersenyum lagi dan berkata “itu hanya ungkapan fril aku Cuma mau bilang apa yang kamu miliki sekarang ini sudah sangat lebih daripada orang lain miliki? Mengapa kamu tidak bersyukur? Jangan kamu menjadikan orang diatasmu tempat kamu berkaca. Cobalah melihat ke bawah masih banyak orang yang ingin seperti dirimu tapi mereka tidak mampu”. Waktu itu aku menanggapi dengan sedikit gundah lalu aku bertanya “Maksudmu sikapku berlebihan begitu?” dia tidak menjawab dan hanya tersenyum. Dan terus dia aku tanya "jadi sikap temen-temen selama ini banyak yang ga ramah itu gara-gara sikapku?" dia tetap tidak menjawab dan hanya tersenyum "cobalah tahan dirimu..." hanya itu yang terlontar saat kami memasuki kantor fakultas.
Oh god… baru aku sadari kalau memang sikapku kadang berlebihan…ambisiku terhadap suatu hal terkadang membuat orang lain menjadi eneg. Nah sekarang ini idelaisku lah yang mungkin terlalu menggebu-gebu sehingga orang melihatku selalu dengan tatapan sinis….okey…okey aku ga mau dianggap orang sebagai pemicu penyakit hati orang. Mungkin agar bisa berefleksi diri aku akan melihat orang disekitarku, aku akan lebih berhati-hati dalam bergaul, dan yahc tidak selalu kita harus menatap matahari meski kita kdang kita perlukan untuk memacu motivasi dan semoga aku sekarang besuk dan kelak tidak memiliki penyakit tersebut. Ya Allah lindungilah hamba jauhkan hamba dari penyakit mengerikan tersbut….Amien….

Senin, 08 November 2010

Aku dan Bunga-bunga ku....^_^

Dear diary.....
Tentu udah pernah denger dong tentang bunga krisan? Bunga krisan atau bunga Seruni merupakan bunga favoritku. Bunga krisan memiliki nama ilmiah : Chrysanthemum indicum L.Bunga ini berasal dari famili keningkir atau Asteraceae. Nah alasanku posting tentang krisan kali ini adalah karena aku selalu merasa ada semacam "chemistry" jika memandangnya. Bunga yang kerap menghiasi acara pernikahan ini sebenarnya memiliki arti persahabatan yang sejati. Diambil dari filosofi bentuk bunganya yang memiliki begitu banyak mahkota dengan berbagai macam ukuran yang bersatu dan bersumber dari kelopaknya yang besar. Maknanya, apapun perbedaan yang ada, jika memang hatinya telah terpaut dalam sebuah persahabatan, maka selamanya akan tetap bersatu (Annisa Mustika: 2010)

Bunga ini memiliki warna yang sangat beragam, antara lain: putih, kuning, pink, hijau, merah, salem dan oranye. Otomatislah warna kesukaanku kuning.

Tanaman sangat cocok ditanam pada lahan dengan ketinggian antara 700-1200 di atas permukaan laut (dpl). Untuk daerah yang curah hujannya tinggi, penanaman harus dilakukan di dalam bangunan rumah plastik, karena gak tahan terpaan air .Suhu udara terbaik untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah antara 20-26 derajat selsius. Toleran suhu udara untuk tetap tumbuh adalah 17-30 derajat celsius. Berarti kalo di Trenggalek bisa ga ya di tanam? sayangnya ketinggian daerah trenggalek adalah 0 - 690 m dpl. Jadi ga bisa di buat budidaya tanaman krisan tersebut. Ketinggian dan suhu yang ga cocok bisa menyebabkan bunga krisan tidak dapat tumbuh secara optimal.

Akan tetapi diary ga da salahnya se menanam sebatang atau dua batang tanaman krisan. Jika ingin menanam bunga krisan yang hanya untuk mengisi taman maka ada beberapa tips yang bisa di gunakan ini aku intip dari blognya ibu jempol

Berikut caranya:

Jika berupa stek maka caranya potong tangkai bunga krisan 5 – 7 cm,  beri hormon perangsang tumbuh (contohnya Rootone) terus tancepin di pot, biarkan sebelas harian juga udah tumbuh akar dan bisa dipindahkan ke pot atau ke pekarangan rumahmu.

Jika dari benih ./ biji yg dibeli dlm sanchet. Semaikan biji pada media sekam, pasir, tanah berhumus dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Agar media terbebas dari bakteri pembusuk, kukus media sebelum digunakan. Siramin teratur, ngasih pupuk sbb : pada masa pertumbuhan (hingga dua bulan) beri pupuk lengkap seperti gandasil, hyponex atau complesal dengan kadar nitrogen tinggi. Ketika tanaman menampakkan kuntum bunga, gunakan pupuk dengan kadar P (fosfat) tinggi untuk merangsang munculnya kuntum bunga., 3 bulan kemudian sudah bisa menikmati bunga yang indah

Nah itu tadi about bunga krisan. Pingin diary nanam bunga itu....kalo dah ada waktu n kesempatan ingin rasanya menyulap halaman rumah jadi sebuah taman....tapi kendalanya waktuku ga banyak di Pule. Hem...bercita-cita ajah punya rumah sendiri n punya taman mungkin akan aku isi dengan beberapa bunga favoritku seperti
1. bunga krisan kuning dan putih,











2. bunga mawar kuning (kalo bunga satu ini aku udah punya dirumah ini bunga favoritku no 2 setelah krisan nanti aja aku kirim postingnya lagi),













3. bunga Hisbiscus rosa-sinensis aku pilih warna merah ajah sama putih,








4. bunga bakung atau atau Lilium cuma kalau di Trenggalek hidup ga ya bunga ini? kalau dipule bisa tumbuh dan berbunga dengan indah akan tetapi jika ditrenggalek aku jadi sangsi apa bisa?










5. Untuk jenis tanaman lindungnya aku suka pohon cemara. dan dikasih hamparan rumput...ehm....asik juga.

Lhah....kok jadi berkhayal...emang seberapa luas se tamanku? dan seberapa besar rumah impianku itu hwahaha.....masih dalam angan-anagan.....but anyway gpp se semoga aja bisa jadi kenyataan amin...^_^....

Selasa, 02 November 2010

Wong jawa ora "njawa" ni

Dear diary....
Kalau kita jalan-jalan di pulau dewata kita akan merasakan betapa kentalnya budaya mereka. Seakan sulit tergeser meskipun mereka secara langsung bersinggungan dengan turis dari berbagai negara yang menawarkan kemajuan teknologi dan gaya hidup yang berbeda. Coba kita amati dimanapun mereka tidak malu memakai baju adat bangga malah. Pertanyaanku mengapa ya mereka dapat terus mempertahankan kebudayaannya? posting ini aku ga akan membahas budaya Bali diary...aku akan lebih membahas budayaku sendiri yaitu budaya Jawa.

Coba diary kita tengok lingkungan sekitar kita, banyak sekali pergeseran yang nampak kasat mata. Seperti sudah berkurang nya seseorang memakai bahasa Jawa sesuai dengan anggah ungguh. Seperti seorang anak yang memakai bahasa kromo halus pada ortu mereka. survey di kelasku saat aku tanya berapa anak yang dirumah memakai bahasa Jawa "Kromo" kepada orang tuanya? dan yang mengangkat tangan hanya 1 dari 36 siswa. Begitu pula di kelas lain. Bahkan kadang aku geli sekaligus gemes juga mendengar bahasa anak-anak yang memanggilku seharusnya "panjenengan" jadi "pean" atau "sampeyan" bahkan parah lagi ada yang yang manggi "kowe" aduh...pingin tak cubit aja itu anak. Akhirnya aku selalu bilang pada mereka jika disekolah kalau mereka memang tidak bisa bahasa kromo lebih baik memakai bahasa Indonesia saja karena rasanya risih banget kalau dengar ucapan mereka yang amburadul.

Yahc memang ada anggapan kalau memakai basa Jawa Kromo di lingkungan keluarga dapat membuat si Anak maupun si ortu akan memiliki jurang dalam hal kedekatan satu sama lain. Benarkah itu? relevan kah? Kenyataannya itu tidak aku alami. Aku di biasakan memakai bahasa Kromo untuk orang yang lebih tua terutama orang tuaku sejak umur 6 tahun atau sejak aku menginjakan kaki di bangku SD. Dan dalam pendidikan keluargaku selalu memegang teguh anggah ungguh bahasa. Setiap aku salah mengucapkan aku selalu diperingatkan. Kenyataannya tidak ada secuil pun rasa jauh dari orang tuaku. Tidak ada jurang yang memisahkan kedekatan kami kecuali saat aku masih remaja dulu dan itu wajar karena psikologi remaja yang cenderung ingin menutup diri. Akan tetapi terlepas dari itu keakrabanku dengan orang tua tidak kalah dengan yang setiap hari berbahasa "Ngoko" dengan orangtuanya katanya se biar seperti teman. Nah anggapan ini yang sepertinya membuat adanya pergeseran. Pernah mengamati ga diary seorang anak yang marah pada orang tuanya misal dengan bahasa "Ngoko" akan sangat kasar jika berbicara akan tetapi seorang anak meskipun sedang marah atau menangis memakai bahasa "Kromo" tidak akan ada yang tersakiti. si anak akan dapat mengendalikan kata-katanya sedang si orang tua pun tidak akan terbawa emosi karena kata-kata kasar dari si anak. Betul ga????? hehe karena itu aku alami diary jadi aku rasa itu relevan.


Nah kembali ke pokok bahasan. Ada beberapa filosofis jawa yang sangat baik untuk di terapkan dalam kehidupan kita. Dari sebuah buku yang aku baca, memang salah satu filosofis orang jawa adalah "nrimo ing pandum"  arti nya dapat menerima segala kenyataan yang ada dengan ikhlas dan sabar dan itu menggambarkan bahwa masyarakat jawa adalah masyarakat yang cukup terbuka dan Agamis. Yang ada sekarang termasuk yang nulis diary ini (ngaku hehe...) terkadang tidak dapat mesyukuri baik hal kecil maupun hal besar yang telah di anugrahkan Allah pada kita semua. Kita cenderung menuntut dan tidak puas kadang mengeluh dengan apa yang kita capai sungguh memalukan ya??? ^_^. Selain itu juga ada filsafat "Alon-alon tur kelakon" yang artinya kita jangan gegabah dalam bertindak. Sebelum bertindak kita harus berfikir baik tidaknya agar kita mendapat hasil yang maksimal. Akan tetapi seperti yang aku katakan tadi bahwa sudah jarang masyarakat yang memegang tegus filsat yang satu ini. Hal ini di buktikan semakin banyaknya segala hal dengan merk "Instan". Misal makanan instan, minuman instan, rumah instan,pendidikan instan,  ijazah instan, bahkan pendamping instan Astagfilullah.....(>.<)

Memang diary tidak disanggah segala yang instan dapat menghemat waktu dan sangat efisien termasuk aku kadang juga menyukai yang instan kecuali instan yang terkhir aku bilang (pendamping instan maksudnya) hahaha.....tapi diary sebentar kita tengok semua yang bersifat instan itu apakah ada efek sampingnya??????
Dan ya banyak sekali efek samping dari yang serba instan makanan dan minuman banyak yang mengandung pengawet yang menimbulkan berbagai penyakit yang sangat meresahkan akhir-akhir ini. Dulu masyarakat yang masih memegang filosofis jawa tersebut tentu tidak akan memakai pengawet baik untuk makanan ataupun minumannya. Meski harus memasak berjam-jam tapi mereka akan menyuguhkan makanan yang lezat dan merupakan makanan organik jauh dari segala pemicu penyakit.

Okey diary....kita memang tidak bisa menolak datangnya kemajuan teknologi yang menghantam bertubi-tubi bagai tsunami yang memporak porandakan dasar kejawen kita yang merupakan masyakat adi luhung berbudi pekerti, tepo sliro dan suka bergotong royong. Jiaaaah.......gemes aku diary kalau aku bersinggungan dengan orang yang sangat jauh dari identitas dirinya sebagai asli trah jawa (maaf bukane rasis) misal rasa "tepo sliro" sekarang berganti denga rasa "tepo awkku dewe" (ini istilah ku saja diary hehe...) artinya yang penting aku senang enjoy....kamu terserah....EGP (Emang Gue Pikirin) gitu istilahnya. Ya mo gimana diary kita hidup kan bermasyarakat yo ndak bisa kan kita hidup individualisme?????tanpa memikirkan perasaan orang??? kalo dah seperti itu aku selalu berkata dalam hati "Pancene wong jowo ora "njawa" ni " hahaha.....stt... ini hanya unek unek ku diary coz aku semakin prihatin dengan budaya jawa yang semakin tergeser. Aku semakin tertarik mempelajari filosofis jawa yang begitu keren gitu menurut istilahku.....

Okey diary cukup segini dulu posting ku....