My name

Kamis, 31 Januari 2013

Penokohan menurut versiku : The Palace of Illusions

Siang diary...
akhirnya selesai juga aku membaca buku The Palace of Illusions (Istana Khayalan). Sebenarnya aku secara tidak sengaja menemukan buku ini diperpustakaan sekolah. Saat aku tertarik buku yang di bawa salah satu siswaku yaitu "Kitab Cinta Yusuf Zulaikha" dan memintanya memberitahuku saat dia selesai membaca. Saat meminjam buku itulah sudut mataku menangkap sebuah buku dengan sampul berwarna menarik, sebuah istana dengan langit hijau semburat kuning dengan bintang-bintang serta warna kaki langit lembayung dan judul yang membuat penasaran. Pertama yang aku lakukan adalah melihat sinopsis buku itu. Dalam sinopsis tersebut aku membaca bahwa buku itu adalah buku yang menceritakan kisah Mahabarata. Aku semakin tertarik karena kisah itu adalah kisah-kisah dongeng yang selalu diceritakan ibuku saat aku masih kecil. Dalam sinopsis tersebut juga dijelaskan bahwa kisah Mahabarata yang ditulis didalam buku karangan Chitra Banerjee Divakaruni ini diceritakan melalui sudut padang Dropadi putri kerjaan Panchala yang menjadi istri dari Pandawa Lima.

Meskipun buku ini memiliki 496 halaman, tidak sedikitpun kata-kata aku baca sambil lalu seperti saat aku membaca cerita novel yang membosankan yang penuh dengan kata-kata yang kurang bermakna. Setiap kalimat yang terdapat dalam buku ini begitu penuh makna dan arti, berhubungan dengan setiap peristiwa. Sehingga saat ada kalimat yang sambil lalu aku baca maka kalimat selanjutnya harus memaksaku untuk mengulangi membaca kalimat yang aku tinggalkan. Sungguh tidak membuat bosan malah sebaliknya rasa penasaran akan cerita apa yang terangkai selanjutnya membuatku meluangkan waktu untuk mencermati setiap kata-katanya.

Cerita Mahabarata bukan cerita asing bagiku diary...sama dengan cerita Ramayana yang telah aku bahas pada posting yang lalu. Cerita itu adalah cerita penghantar tidurku disaat aku masih kecil, keingin tahuanku dan rasa penasaran setiap ibuku bercerita tentang Pandawa Lima, tentang Kunti ibunya dan tentang Drupadi yang pada saat itu diceritakan oleh ibuku adalah istri Yudistira bukan istri dari ke Lima pandawa (mungkin saat itu ibuku memilih kata-kata yang tepat untuk anak seusiaku karena aku yang selalu ingin tahu akan bertanya lagi kenapa seorang perempuan bisa menikah dengan lima laki-laki sekaligus) sampai membuat ibuku kewalahan karena cerita itu akan membuat penasaran jika diceritakan sepenggal demi sepenggal tetapi ibu selalu sabar untuk sedikit demi sedikit bercerita sehingga kisah-kisah itu terangkai dan menjadi kisah yang tak asing lagi ditelingaku.

Okey berikut adalah ulasan penokohan menurut versiku sebagai pembaca dalam memahami buku ini. Tapi sebelum mengulasnya untuk memuaskan imajinasi berikut adalah cover buku yang aku baca:
Cover buku yang aku baca dan sudah di alih bahasa oleh Gita Yuliani K

Cover buku asli yang ditulis oleh Chitra Banerjee Divakaruni

Buku ini diawali dengan cerita yang berbeda dari yang aku dengar versi pewayangan ibuku. Kelahiran Drupadi dari api yang datang bersamaan dengan kakaknya Drestajumna (kalau ibuku bilang Tresnajumna). Dari sudut padang Drupadi inilah aku sebagai pembaca dapat melihat sisi-sisi pemberontakan yang lumrah sebagai seorang perempuan yang ingin hidup bebas tidak terkekang tradisi sebagai perempuan. Nah ulasanku kali ini akan membahas karakter yang ada dalam cerita:

Sumber foto : Wikipedia
1. Drupadi/Panchali/ Krishnaa (panggilan khusus dari Krishna)

Dalam buku ini menceritakan seorang perempuan yang lahir secara tidak wajar (muncul dari api) yang sejak awal diramalkan sudah mengemban tugas yang sangat berat dan mengerikan. Tugas tersebut adalah merubah sejarah dan menjadi pemicu kehancuran manusia pada abad ke empat. Drupadi yang selama ini aku pahami dari berbagai cerita seorang yang sabar, baik dan berhati lembut ternyata diceritakan memiliki karakter yang sangat berbeda. Dia seperti perempuan pada umumnya memiliki sifat yang selalu ingin tampil berbeda, menjadi pusat perhatian, mendambakan cinta sejati, rasa ingin tahu, sedikit angkuh, jiwa pemberontak saat dikekang dan tak jarang emosi mengalahkan logikanya. Tentu aku dalam hal ini tidak menyudutkan perempuan akan tetapi memang benar adanya bahwa perempuan terkadang jika sudah terbawa emosi butuh kemampuan yang luar biasa untuk bisa memandang masalah kembali dengan logika. Bahkan dalam buku ini diceritakan karena ketidakberdayaannya dalam mengalahkan emosi, kesombongan dan juga harga diri membuat sumpah mengerikan terucap dari mulutnya. Kemarahannya dan juga ke egoisannya membuat para wanita menjadi janda, para ibu kehilangan putranya, membuat adik harus membunuh kakaknya, membuat cucu harus membunuh kakeknya, membuat seorang paman yang tersayang harus memusuhi keponakan-keponakannya bahkan membuat seorang ayah mengremasi mayat anak yang baru dia temukan dalam sebuah perang besar yang bernama perang Bharat atau kita kenal "Perang Bharatayudha" di medan yang bernama "Kurusetra".

Drupadi mempunyai sisi unik dari perempuan yang kadang kita akui atau tidak memang  ada pada diri kita. Mungkin saat membaca cerita tersebut kita mengerutkan dahi kecewa atau tidak setuju atas apa yang dilakukan oleh Drupadi tapi jika kita membuka fikiran lebih luas lagi kita bisa memaklumi bahwa hal itu wajar. Dia tidak bisa memilih laki-laki yang dicintainya, dia yang notabene adalah seorang putri harus hidup menderita saat hari pertama pernikahannya, dia yang dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan ikut dalam pembangunan istana khayalan yang dikenal Indraprastha, istana yang setiap detail ruangan adalah refleksi dirinya harus kehilangan itu semua di meja judi pertaruhan suaminya. Dia yang dipermalukan di hadapan para raja, orang-orang yang dihormati dan lelaki yang di cintainya secara diam-diam tanpa ada pembelaan dari kelima ksatria yang dianggap suaminya. Semua menjadi sangat wajar jika dia marah dan meluapkan emosinya dalam sebuah sumpah yang entah bagaimana akan terlaksana sebagai akhir peradapan pada abad ke empat. Bukankah itu wajar?. Jika ada seorang wanita menikah karena terpaksa, kehilangan rumah yang dibangun dengan sepenuh jiwa dan dipermalukan di depan publik seakan dia bukan seorang  wanita terhormat tanpa ada pembelaan bahkan oleh suaminya sendiri. Ehm....entahlah......kita lanjut saja ke karakter lain yang aku suka.

2. Pandawa Lima (Yudhistira,Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa)

Sulit mencari lukisan yudhistira versi india nya hehe
Yudhistira kalau dalam cerita pewayangan namanya Puntadewa memiliki karakter yang seakan tanpa cela. Bijaksana, baik hati, sabar, suci dan tidak pernah berprasangka. Begitu setidaknya dongengku dulu waktu kecil. Akan tetapi berdasarkan cerita yang aku baca memalui sudut padang Drupadi terkadang aku merasa jengkel dengan sikap-sikap Yudhistira yang terlalu memegang teguh hukum dan filsafat. Tidak pernah sekalipun menempatkan diri bahwa dia wajib melindungi istri dan juga saudara-saudaranya. Seringkali Yudhistira menempatkan istri dan saudaranya dalam bahaya. Seperti saat permainan dadu dia mempertaruhkan istana yang dibanggakan oleh istrinya, saudara-saudaranya sebagai budak bahkan dimeja judi pula dia mempertaruhkan istrinya untuk dipermalukan di depan umum seperti layaknya wanita tidak terhormat. Selain itu di tiga perempat buku di ceritakan pula dia yang meminta Abimanyu putra Arjuna yang mana pada saat itu istrinya sedang hamil muda untuk masuk ke pertempuran sendiri hingga akhirnya Abimanyu tewas mengenaskan dengan tubuh terpotong-potong karena dikeroyok oleh bala Kurawa.


Bima dalam cerita wayang disebut sebagai Werkudara. Entahlah aku paling suka karakternya.  Sama seperti aku menyukai karakter Hanuman sang kera putih dalam cerita Ramayana. Mungkin sama-sama titisan dewa Angin/Bayu itulah yang membuat karakter mereka hampir sama. Dia yang menurut pandanganku dari buku tersebut memiliki jiwa yang lurus. Dia berani membela saudara-saudaranya. Dia yang sangat memanjakan seorang ibu dan dia yang setulus hati mencintai Drupadi. Apapun yang diinginkan Drupadi selalu dia turuti. Benar-benar pria romantis dibalik kegarangannya. Dia pulalah yang menangis saat Drupadi harus menjemput ajalnya saat perjalanan akhir. Sayangnya Drupadi tidak benar-benar mencintainya.







Arjuna yang dalam cerita wayang memiliki banyak nama seperti Janaka, Permadi dan lain-lain. Tokoh yang sering digambarkan, di ilustrasikan dalam sebuah tarian yang akupun juga suka menarikannya. Kalau menurut dongengku dia adalah laki-laki tampan bahkan sangat tampan, memiliki kemampuan memanah yang luar biasa memiliki banyak istri dan berjiwa lembut apalagi dengan perempuan. Di buku ini karakternya hampir mirip tetapi ada beberapa yang membuat aku mengerutkan dahi karena mungkin aku baru tau penggambarannya dari sisi Drupadi. Sebagai seorang kesatria yang lebih kepada keinginannya mencapai kejayaan di medan pertempuran. Dari buku ini aku pun jadi tau sosok Arjuna yang sangat lihai dalam berjuang ada kalanya dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawan para perampok yang menghancurkan negeri Dwaraka (kerajaan Krishna). Saat kesedihan yang mendalam karna kematian Krishna di dunia membuatnya lemah dan tidak berdaya bahkan untuk melawan para perampok yang dulu saat kejayaannya dengan satu bidikan anak panah bisa menyelesaikan semuanya.

Nakula dan Sadewa tidak banyak yang menceritakan kedua tokoh kembar ini selain mereka adalah putra kesayangan Kunti. Meskipun mereka bukan anak kandungnya

3. Kunti
Seorang ibu yang menurut cerita dalam buku ini memiliki jiwa dan tekad kuat untuk memastikan bahwa anaknya mendapatkan warisan yang sebagaimana mestinya telah menjadi haknya yaitu Hastinapura. Seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya sama seperti seorang ibu pada umumnya. Seorang ibu yang sedikit kawatir menantunya akan membuatnya tersingkir dari hati para anak lelakinya sehingga dengan kata-kata halus tapi tajam selalu mengkritik tindakan para menantunya terutama Drupadi. Seorang ibu yang juga merupakan seorang wanita yang menyimpan sisi kelam masa lalunya dan demi harga dirinya dia tidak mau mengakui kehadiran seorang anak diluar pernikahannya. Dan demi harga dirinya pula di harus melihat anak diam-diamnya terbunuh oleh salah satu dari kelima putra kesayangnnya.

Mungkin kalo versi india tidak demikian
4. Gatutkaca
Meskipun dibuku ini hanya sedikit dibahas tentang Gatutkaca putra Bima dengan raksasa Hidimba yang di pewayangan disebut Arimbi. Tapi sesi kematian Gatutkaca ini membuat hatiku saat membaca terharu. Gatutkaca yang begitu bahagia bertemu ayahnya, mengidolakan ayahnya membaktikan diri untuk ayahnya akhirnya mati dimendan pertempuran. Kalau tidak salah diperpustakaan aku juga melihat cerita tentang buku dari sudut pandang Gatutkaca ehm...jadi ga sabar aku membacanya mungkin diposting lain aku bisa membahas lebih banyak lagi tentang karakter ini.






5. Dhuryudana
Duryudana dan Dorna
Tokoh antagonis yang kalau menurut imajinasiku adalah pangeran dengan wajah menyeramkan dan sangat luar biasa jahatnya. Tapi dibuku ini menurut sudut pandang Drupadi, Duryudana tidak sejahat itu. Dari segi wajah digambarkan seorang yang tampan tapi memiliki jiwa yang angkuh dan sangat suka dengan harta benda (wajar karena sejak kecil dia adalah pangeran). Sifat tamak iri dan dengki sebenarnya berassal dari hasutan Patih Sengkuni yang merupakan pamannya sendiri. Ada beberapa sifat Duryudana yang menurut pemahamanku dari buku ini mengagumkan. Pertama dia merupakan sahabat sejati dari Karna. Dia yang membela dan memberikan kehormatan pada karna yang pada saat itu di hina oleh para Tetua dan juga Pandawa. Duryudana selalu mengikuti saran dan anjuran dari Karna selain tentu dari patih sengkuni. Duryudana merupakan pejuang sejati yang mana dia lebih baik mati daripada menyerah kepada musuh. Ya....paling tidak itulah sisi baiknya


6. Karna
Putra diam-diam Kunti sewaktu masih muda dengan Dewa Matahari sama dengan ayah Arjuna. Sehingga sering digambarkan, wajah Arjuna dan Karna memiliki kesamaan. Begitu pula dengan kemampuan bertarungnya. Nasib yang kurang beruntunglah yang membuat Karna salah memilih sahabat, salah memilih kesetiaan dan juga salah tidak memperjuangkan cintanya. Dalam hal ini aku sedikit ragu apakah benar Karna adalah cinta diam-diamnya Drupadi? yah karena membaca buku ini aku percaya saja. Andaikan Drupadi tidak dengan sombong bertanya asal-usul Karna saat sayembara, saat Karna pun menyetujui usul Kunti yang memintanya berpihak pada Pandawa tentu cinta mereka akan bersatu. Karena Karna adalah putra Kunti jadi secara tidak langsungpun berdasarkan perkataan Kunti "Apapun itu yang kalian bawa (Drupadi) harus dibagi sama rata diantara seluruh putraku" maka Drupadi juga dapat menjadi Istri dari Karna. Dan karena sumpah setianya kepada persahabatan maka dia harus rela membunuh keponakannya Abimanyu dalam pengeroyokan tidak adil, membunuh keponakannya Gatutcaka dan akhirnya dia dibunuh oleh adiknya seayah dan seibu yaitu Arjuna.

7. Krishna
Menurut cerita Krishna adalah titisan dari Dewa Wisnu yang aku rasa berperan dalam peri yang selalu menyelamatkan para pandawa.  Dari awal sampai akhir cerita aku menyukai penokohan Krishna yang misterius. Datang selalu tepat saat Drupadi membutuhkan. Sikapnya yang bijaksana menurut pandangan Drupadi, selalu memberikan nasehat-nasehat bijak. Membantu Drupadi menahan luapan emosinya, membantu pandawa memutuskan permasalahan rumit. Tetapi ada juga sikapnya yang membuat aku mengerutkan dahi saat dia memberikan nasehat untuk melakukan hal-hal yang dinilai kurang berjiwa kesatria seperti meminta Arjuna membunuh Karna saat Karna memperbaiki kereta kudanya, membuat strategi pembunuhan Bisma dengan menaruh Srikandi di depan Arjuna sebagai perisai yang pasti Bisma sebagai kesatria tidak akan melawan perempuan sehingga saat lengah Arjuna diminta melesatkan anak panah menembus dada bisma (meskipun tidak membuatnya terbunuh tapi membuat dia roboh dan tak mampu lagi berperang). Yah itulah sifat misterius Krishna.

Ehm....aku rasa ulasan penokohan dalam cerita ini cukup sekian dulu.
Hal yang dapat aku petik dari cerita ini adalah : Pikiran kadang dikeruhkan oleh emosi, sedangkan emosi dapat menyebabkan becana dalam kehidupan. Penyesalan di kemudian hari tidak akan memberikan efek signifikan dalam merubah jalannya cerita dimasa lalu tapi sedikit banyak menjadi pelajaran di kehidupan yang akan datang.

Huffhhh...capek diary ga terasa dah adzan Dhuhur......off dulu 

Catatan : gambar-gambar diatas saya ambil dari berbagai sumber untuk menguatkan imajinasi saja maaf jika tidak sesuai....^_^





0 komentar: